Sabtu, 11 Mei 2013

Batuk dan Sesak pada Anak


SKENARIO
Seorang anak 3 thn diantar ibunya ke RS dengan demam yang tinggi, anak rewel dan tidak pernah tidur sejak semalam. Menurut ibunya dalam 3 bulan terakhir ini sudah berkali-kali ia membawa anaknya ke dokter dengan keluhan beringus dan batuk yang hilang timbul, terutama malam hari dan hampir satu bulan terakhir ini batuk dan beringus anaknya tidak berhenti yang kadang disertai sesak. Pada saat penimbangan di posyandu bulan lalu BB anaknya 10 kg. Anaknya anak ke 3, kedua anaknya juga sering mengalami keluhan yang sama, hanya saja tidak separah anaknya yang ketiga ini.

KATA/ KALIMAT KUNCI :
1.      Anak umur 3 thn
2.      Demam tinggi
3.      Batuk, beringus yang hilang timbul
4.      Disertai sesak
5.      BB 10 kg
6.      Kedua kakaknya juga mengalami hal yang sama tapi tidak separah anaknya yang ketiga

PERTANYAAN :
      1. Jelaskan bagaimana patomekanisme batuk !
      2. Jelaskan penyakit-penyakit sistem pernapasan yang berhubungan dengan skenario !
     3. Bagaimana epidemiologi dari penyakit-penyakit sistem pernapasan yang berhubungan dengan skenario !
   4.Sebutkan pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis dari penyakit-penyakit sistem pernapasan yang berhubungan dengan skenario !
    5. Bagaimana penatalaksanaan dari penyakit-penyakit sistem pernapasan yang berhubungan dengan skenario !
     6.Bagaimana komplikasi dari penyakit-penyakit sistem pernapasan yang berhubungan dengan skenario !
     7.Bagaimana prognosis dari penyakit- penyakit sistem pernapasan secara keseluruhan !
JAWABAN PERTANYAAN :
    1. Patomekanisme batuk
Batuk dimulai ketika suatu zat atau benda asing mencapai salah satu reseptor batuk di hidung, tenggorokan, atau dada. Reseptor tersebut kemudian menyampaikan pesan ke pusat batuk di otak yang memeberi perintah untuk batuk. Lalu hidung menghirup napas, epiglotis dan pita suara menutup rapat sehingga udara dalam paru-paru terjebak. Otot perut dan dada akan berkontraksi dengan kuat sambil menekan sekat rongga tubuh. Akhirnya epiglottis akan memebuka dengan tiba-tiba, dan udara yang terjebak tadi mendadak keluar, terjadilah batuk.

    2. Penyakit- penyakit sistem pernapasan yang sesuai dengan skenario
Ø  Pneumonia pada anak
Ialah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam- macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Mekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk mencegah infeksi dan terdiri dari :
-          Susunan anatomis rongga hidung
-          Jaringan tifoid di naso-oro farings
-          Silia
-          Refleks batuk
-          Refleks epiglottis mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi
-          Drainase sistem limfatik
-          Fagositosis
Ø  TBC anak
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis ( namun sangat jarang ). Penularannya biasanya melalui udara, hingga sebagian besar fokus primer tb terdapat dalam paru.
Ø  Asma
Asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bromkus ooleh berbagai macam pencetus disertai timbulnya penyempitan luas saluran napas bagian bawah yang dapat berubah-ubah derajatnya secara spontan atau dengan pengobatan.

    3.Epidemiologi dari penyakit-penyakit sistem pernapasan yang berhubungan dengan skenario!
Ø  Pneumonia pada anak
Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia. Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 thn dan mengurang seiring dengan meningkatnya umur.
Ø  TBC anak
Uji tuberkulin pada 50 % penduduk menunjukkan hasil positif dengan perincian berdasarkan golongan umur yakni 1-6 tahun sekitar 35%.
Ø  Asma
Kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Belum ada penyelidikan secara pasti mengenai angka kejadian asma pada anak di Indonesia, namun diperkirakan berkisar 5-10%.

   4. Pemeriksaan dari penyakit-penyakit sistem pernapasan  yang berhubungan dengan skenario!
Ø  Pneumonia pada anak
   5. Pemeriksaan laboratorium
Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000-40.000/mm3 dengan pergeseran ke kiri. Kuman penyebab dapat dibiak dari dari usapan tenggorokan dan 30 % dari darah. Urin biasanya berwarna merah tua, mungkin terdapat albuminuria ringan karena suhu yang naik dan sedikit torakhialin.
Ø  TBC Anak
A.    Uji tuberkulin
Pemeriksaan ini merupakan alat diagnosis yang penting dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis. Uji tuberkulin lebih penting lagi artinya pada anak kecil bila diketahui adanya konversi dari negatif. Pada anak di bawah umur 5 tahun dengan uji tuberkulin positif, proses tuberkulosis biasanya masih aktif meskipun tidak menunjukkan kelainan klinis dan radiologis, demikian pula kalau terdapat konversi uji tuberkulin. Uji tuberkulin dilakukan berdasarkan timbulnya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein karena adanya infeksi.
            Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin yaitu cara Moro dengan salep, dengan goresan disebut patch test cara von Pirquet, cara Mantoux dengan penyuntikan intrakutan dan “ multiple puncture methode “ dengan 4-6 jarum berdasarakan cara Heaf dan Tine. Sampai sekarang cara Mantoux masih dianggap sebagai cara yang paling dapat dipertanggungjawabkan karena jumlah tuberkulin yang dimasukkan dapat diketahui banyaknya.
            Reaksi lokal yang terdapat pada uji Mantoux terdiri atas :
ü  Eritema karena vasodilatasi primer
ü  Edema karena reaksi antara antigen yang disuntikkan dengan antibodi
ü  Indurasi yang dibentuk oleh sel mononukleus
Pembacaan uji tuberkulin dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter melintang dari indurasi yang terjadi. Uji tuberkulin akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita tuberkulosis ( anergi ) dengan :
ü  Malnutrisi energi protein
ü  Tuberkulosis berat
ü  Morbili varisela
ü  Vaksin virus
ü  Penyakit ganas

A.    Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiologis paru yang biasanya dijumpai pada tuberkulosis paru ialah :
ü  Komplek primer dengan atau tanpa perkapuran
ü  Pembesaran kelenjar paratrakeal
ü  Penyebaran milier
ü  Penyebaran bronkogen
ü  Atelektasis
ü  Pleuritis dengan efusi
Pemerikasaan radiologis paru saja tidak dapat digunakan untuk membuat diagnosis tuberkulosis, tetapi harus disertai data klinis lainnya.
B.     Pemeriksaan bakteriologis
Penemuan basil tuberkulosis memastikan diagnosis tuberkulosis, tetapi tidak ditemukannya basil tuberkulosis bukan berarti tidak menderita tuberkulosis. Bahan- bahan yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis ialah :
ü  Bilasan lambung
ü  Sekret bronkus
ü  Sputum pada anak besar
ü  Cairan pleura
ü  Likuor serebrospinal
ü  Cairan asites
Ø  Asma
A.    Pemeriksaan fisik
-          Pada inspeksi  : terlihat pernapasan yang cepat dan sukar, disertai batuk-batuk paroksismal, kadang-kadang terdapat “ wheezing “ ( mengi ).
-          Pada perkusi : terdengar hipersonor seluruh thorax, terutama bagian bawah posterir. Daerah pekak jantung dan hati mengecil.
-           Pada auskultasi : mula-mula bunyi nafas kasar/mengeras, tapi pada stadium lanjut suara napas melemah atau hampir tidak terdengar karena aliran udara sangat lemah.
B.     Uji faal paru
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk menilai asma meliputi diagnosis dan pengelolaannya. Uji faal paru dikerjakan untuk menilai derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Uji faal tidak selalu mudah dilakukan, terutama pada anak dibawah umur 5-6 tahun. “ Peak flow meter “ adalah alat yang paling sederhana, sedangkan dengan spirometer memberikan data yang lebih lengkap.
C.     Foto rontgen thorax
Pemeriksaan ini perlu dilakukan dan pada foto akan tampak corakan paru yang meningkat. Hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik.
D.    Pemeriksaan darah
Eosinofil dapat ditemukan pada darah tepi, sekret hidung dan sputum. Dalam sputum dapat ditemukan kristal Charcot-Leyden dan spiral Curshman. Bila ada infeksi mungkin akan didapatkan pula lekositosis polimorfonukleus.

   6. Penatalaksanaan dari penyakit-penyakit sistem respirasi yang berkaitan dengan skenario !
Ø  TBC  anak

Regimen dasar pengobatan TB adalah kombinasi INH dan RIF selama 6 bulan dengan PZA pada 2 bulan pertama. Pada TB berat dan  ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan

o   Pemberian obat tuberculostatikum mencegah penyebaran lebih lanjut basil tb dn menyembuhkan bronkopneumonia tb, tetapi obat tuberculostatikum tdk mmpunyai efek terhadp lesi did lm bronkus. Anti biotika yg mmpunyai spectrum luas perlu ditambahkn klo ada infeksi nonspesifik yg sering terjadi berulang-ulang pada endibronkitis. Juga perlu di berikn kortikosteroid.
o   Penderita TB  dan pengobatanya harus adekuat,pengobatan TB memakan  waktu minimal 6 bulan.
o   Terdapat du TB alternative terapi pada paru, yaitu :
-Terapi jangka panjang (terapi tanpa rifampsin)
Terapi ini menggunakan isoniazid, etambutol dalam jangka waktu 24 bulan atau 2 tahun
-Terapi jangka pendek
Terapi ini menggunakan regimen rifampisin dan isoniazid dalam jangka waktu minimal 6
Bulan.
PENCEGAHAN
o   Kemoprofilaksis : sbg kemoprofilaksis bias ax dipakai INH dgn dosis 10 mg/kgbb hr slma 1thn
  • Vaksinasi BCG pada bayi / anak
  • Terapi pencegahan
  • Pengobatan TB paru BTA positif untuk mencegah penularan
  • Terapipencegahan
     Kemoprofilaksis pada Penderita HIV/AIDS
    à INH  dosis 5 mg/ kg BB ( tdk lebih 300 mg) sehari selama minimal 6 bulan.
Ø  Pneumonia pada anak
o   Penisilin diberikan 50.000 U/kgbb/hari dan ditambah dengan kloramfenikol 50-75 mg/kgbb/hari atau diberikan antibiotika yang mempunyai spectrum luas seperti ampisilin.
o   Pengobatan diteruskan sampai anak bebas  panas selama 4-5 hari.
o   Anak yang sangat sesak nafasnya memerlukan pemberian cairan itravena dan oksigen.
PENCEGAHAN
·         Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat keramaian yang berpotensi penularan.
·         Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.
·         Membiasakan pemberian ASI.
·         Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi).
·         Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera ke RS jika kondisi anak memburuk.
·         Imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus influenzae, vaksin Pneumokokal Heptavalen (mencegah IPD= invasive pneumococcal diseases) dan vaksinasi influenzae pada anak resiko tinggi, terutama usia 6-23 bulan. Sayang vaksin ini belum dapat dinikmati oleh semua anak karena harganya yang cukup mahal.
Ø  ASMA
§  Bronkodilator simpatomimetik seperti juga bronkodilator lainnya, disamping dipakai untuk mengobati serangan asma juga dipakai sebagai obat untuk mencegah serangan asma.
§  Penggunaan jangka panjang, misalnya pada asma kronik atau persisten.
§  Bronkodilator yang bekerja sebagai penstimulasi reseptor beta adrenergic di jalan napas.obat ini diberikan dalam bentuk sirup.
PENCEGAHAN
ü  Pengindaran factor-faktor pencetus
ü  Obat-obat dan terapi imunologik

6.      Komplikasi dari penyakit-penyakit sistem pernapasan  yang berhubungan dengan skenario!
Ø  Pneumonia pada anak
Dengan penggunaan antibiotik, komplikasi hampir tidak pernah dijumpai. Komplikasi yang dapat dijumpai ialah : empiema, otitis media akut. Komplikasi lain seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis, peritonitis lebih jarang dilihat.
Ø  TBC anak
Konjungtivitis fliktenularis dapat juga dijumpai pada anak dengan tuberkulosis, terutama tuberkulosis tonsil, adenoid dan telingah tengah. Flikten pada mata diduga sebagai gejala hipersensitivitas dan dalam flikten tidak terdapat basil tuberkulosis. Selama tuberkulosis atau fokus tuberkulosismasih ada, flikten sering tetap hilang timbul.
Ø  Asma
Bila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama,maka akan terjadi emfisema dan mengakibatkan perubahan bentuk thoraks yaitu thoraks membungkuk ke depan dan memanjang.

   7. Prognosis dari penyakit-penyakit sistem pernapasan secara keseluruhan !
Dipengaruhi oleh banyak faktor seperti umur anak, berapa lama telah mendapat infeksi, luasnya lesi, keadaan gizi,keadaan sosial ekonomi keluarga, serta diagnosis dini dan penanganan dini dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.

Daftar Pustaka
Ø  Ilmu Kesehatan Anak FK UI.
Ø  Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. ECG.
Ø  Buku Saku Ilmu Penyakit Paru.
Ø  Nelson Pediatric.ECG.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Tinggalkan jejak :D